Musik Tradisional Nusa Tenggara Timur

Sebelumnya, apa sih musik tradisional itu?
Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan sebagai sarana hiburan.
Tiga komponen yang saling memengaruhi diantaranya Seniman, musik itu sendiri dan masyarakat penikmatnya. Sedangkan maksudnya untuk mempersatukan kesan-kesan antara pemikiran seniman dan masyarakat tentang usaha bersama dalam mengembangkan dan melestarikan seni musik tradisional.

Nah, sekarang, kita mau bahas tentang Musik Tradisional Nusa Tenggara Timur.

Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi yang berbentuk kepulauan yang memiliki beberapa pulau tersendiri. Diantaranya, pulau Sumba, pulau Komodo, Flores, Alor, Rote, dll. Sedangkan ibu kotanya adalah kota Kupang yang terletak dibagian daerah Timor Barat. NTT adalah sebuah daerah yang sangat unik.
NTT adalah salah satu daerah yang memiliki instrumen musik yang unik, salah satunya SASANDO. selain itu ada juga Heo, Foy Doa, Foy Pay, Knobe Khabetas, Knobe Oh, Prere, Sowito, dan lain sebagainya.
Untuk lebih jelasnya, silahkan baca sampai akhir :)

1. SASANDO

·      Sasando merupakan jenis musik pentatonis. Namun  sekitar abad ke-18 sansando mengalami perkembangan menjadi tangga nada diatonis. Sasando diatonis khususnya berkembang di Kabupaten Kupang.
·      Sasando terbuat dari bambu. Bagian utamanya berbentuk seperti harpa, dengan pemantul suara terbuat dari daun Pohon Gebang (sejenis Pohon Lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Rote) yang dilekuk menjadi setengah melingkar.
·      Sasando yang sudah dimodifikasi menggunakan pemantul suara dengan spul gitar listrik yang ditempelkan pada batang bambu ditengah sasando.
·      Cara memainkannya yakni dengan cara dipetik.
·      Sasando dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan jumlah senar yang dimilikinya. Contohnya seperti, Sasando Engkel (28 senar), Sasando Dobel (56 senar).

2. HEO

·      Heo merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara digesek.
·      Berasal dari suku Dawan Timor, NTT.
·      Heo terbuat dari kayu, sedangkan bagian yang digunakan sebagai penggeseknya terbuat dari ekor kuda yang telah dirangkai menjadi sebuah ikatan pada kayu penggesek yang berbentuk seperti busur. Sedangkan dawai –dawainya terbuat dari usus kuskus yang telah dikeringkan.
·      Heo mempunyai 4 dawai, dan masing-masing diberi nama :
- Dawai 1 [ paling bawah ] tain mone, artinya tali laki-laki
- Dawai 2 tain ana, artinya tali anak (kecil)
- Dawai 3 tain feto, artinya tali perempuan
- Dawai 4 tain ena, artinya tali induk
·      Dawai pertama bernada sol, dawai kedua bernada re, dawai ketiga bernada la, dan dawai keempat bernada do.
  

3. FOY DOA
  
·      Berasal dari pulau Flores, tepatnya di kabupaten Ngada.
·      Foy Doa merupakan alat musik yang sudah lama ada sehingga tidak diketahui sejarahnya.
·      Doa berarti suling berganda yang terbuat dari buluh/bambu kecil yang bergandeng dua atau lebih.
·      Foy Doa terdiri dari 2 atau bisa saja lebih suling yang digandeng dan dalam memainkannya digunakan secara bersama-sama.
·      Nada-nada yang diproduksi oleh musik Foy Doa adalah nada-nada tunggal dan nada-nada ganda atau dua suara, hak ini tergantung selera si pemain musik Foy Doa.
·      Cara Memainkan, Hembuskan angin dari mulut secara lembut ke lubang peniup, sementara itu jari-jari tangan kanan dan kiri menutup lubang suara.
 

4. FOY PAY

·      Foy Pay adalah sejenis alat musik tiup dari bambu yang dulunya berfungsi untuk mengiringi lagu-lagu tandak seperti halnya musik Foy Doa.
·      Dalam perkembangannya alat musik ini selalu berpasangan dengan musik Foy Doa.
·      Nada-nada yang dihasilkan oleh Foy Pai : do, re, mi, fa, sol.




5. KNOBE KHABETAS

·      Bentuk alat musik ini sama dengan busur panah.
·      Cara memainkannya ialah, salah satu bagian ujung busur ditempelkan di antara bibir atas dan bibir bawah, dan kemudian udara dikeluarkan dari kerongkongan, sementara tali busur dipetik dengan jari.
·      Digunakan sebagai pelepas kesepian, dan penghibur saat bekerja
·      Biasanya masyarakat dawan selalu membawa berbagai alat musik, salah satunya adalah Knobe Khabetas setiap kali pergi bercocok tanam atau menggembala hewan. Mereka menggunakannya  sambil mengawasi kebun atau mengawasi hewan-hewan, maka musik digunakan untuk melepas kesepian.
·      Selain digunakan untuk hiburan pribadi, alat musik ini digunakan juga untuk upacara adat.

6. KNOBE OH
 

·      Knobe Oh adalah alat musik tradisional yang terbuat dari kulit bambu dengan ukuran panjang ±12,5 cm.
·      Ditengah-tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan bambu yang memanjang (semacam lidah) sedemikian halusnya, sehingga dapat berfungsi sebagai vibrator (penggetar).
·      Apabila pangkal ujungnya ditarik dengan untaian tali yang terkait erat pada pangkal ujung tersebut maka timbul bunyi melalui proses rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.

7. PRERE


·      Alat musik ini terbuat dari seruas bambu kecil sekecil pensil yang panjangnya kira-kira 15 cm.
·      Buku ruas bagian bawah dibiarkan tertutup, tetapi bagian atasnya dipotong untuk tempat meniup. Buku ruas bagian bawah dibelah untuk menyalurkan udara tiupan mulut dari tabung bambu bagian atas, sekaligus bagian belahan bambu itu untuk melilit daun pandan sehingga menyerupai corong terompet yang berfungsi memperbesar suaranya.
·      Prere digunakan untuk hiburan pribadi dan termasuk alat musik yang digunakan untuk mengiringi musik gong gendang pada permainan pencak silat rakyat setempat.
·      Nada-nada yang dihasilkan adalah do dan re.

8. SOWITO

·      Sowito adalah alat musik pukul yang terbuat dari bambu yang berasal dari Kabupaten Ngada.
·      Cara membuatnya adalah dengan menyediakan seruas bambu yang dicungkil kulitnya berukuran 2 cm yang kemudian diganjal dengan batangan kayu kecil. Cungkilan kulit bambu ini berfungsi sebagai dawai.
·      Cara memainkan dipukul dengan sebatang kayu sebesar jari tangan yang panjangnya kurang dari 30 cm.
·      Setiap ruas bambunya menghasilkan satu nada.
·      Untuk keperluan penggiringan, alat musik ini dibuat beberapa buah sesuai kebutuhan.

KEGUNAAN MUSIK TRADISIONAL
·      Sebagai Hiburan, yakni untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas sehari-hari, serta sebagai sarana rekreasi dan ajang pertemuan dengan warga lainnya. Umumnya masyarakat Indonesia sangat antusias dalam menonton pagelaran musik. Jika ada perunjukan musik di daerah mereka, mereka akan berbondong- bondong mendatangi tempat pertunjukan untuk menonton.
·      Sebagai Sarana Upacara Budaya (ritual). Musik di Indonesia, biasanya berkaitan erat dengan upacara- upacara kematian, perkawinan, kelahiran, serta upacara keagamaan dan kenegaraan. Di beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh instrumen atau alat tertentu diyakini memiliki kekuatan magis. Oleh karena itu, instrumen seperti itu dipakai sebagai sarana kegiatan adat masyarakat.
·      Sebagai Sarana Ekspresi Diri. Melalui musik, mereka dapat mengungkapkan perasaan, pikiran, gagasan, dan cita-cita tentang diri, masyarakat, Tuhan, dan dunia.
·      Sebagai Pengiring Tarian. Di berbagai daerah di Indonesia, bunyi- bunyian atau musik diciptakan oleh masyarakat untuk mengiringi tarian- tarian daerah. Oleh sebab itu, kebanyakan tarian daerah di Indonesia hanya bisa diiringi oleh musik daerahnya sendiri. Selain musik daerah, musik- musik pop dan dangdut juga dipakai untuk mengiringi tarian- tarian modern, seperti dansa, poco- poco, dan sebagainya.
·      Sebagai Saran Komunikasi. Di beberapa tempat di Indonesia, bunyi- bunyi tertentu yang memiliki arti tertentu bagi anggota kelompok masyarakatnya. Umumnya, bunyi- bunyian itu memiliki pola ritme tertentu, dan menjadi tanda bagi anggota masyarakatnya atas suatu peristiwa atau kegiatan. Alat yang umum digunakan dalam masyarakat Indonesia adalah kentongan, bedug di masjid, dan lonceng di gereja.

KEUNIKAN MUSIK TRADISIONAL NTT

      Alat musik daerah NTT memiliki nama yang unik dan cukup aneh. Bahkan mereka yang baru pertama kali mengenal istilahnya, akan tertawa atau mengernyitkan dahi. Namun alat musiknya pun tak kalah uniknya. Kebanyakan terbuat dari bambu yang disusun dan dirangkai sedemikian rupa oleh para senimannya. Masyarakat sering menggunakan alat tradisional didaerah mereka sebagai penghibur ketika  mereka merasa kesepian. Selain itu, mereka juga sering membawa alat musik mereka ke tempat mereka bekerja sebagai penghibur saat mereka lelah, dan sebagainya.
      Alat musik daerah NTT juga sangat menarik apabila dijadikan cendera mata, seperti Sasando yang terkenal akan keunikannya.
      Sayangnya, kebanyakan dari alat musik yang ada di NTT semakin lama semakin banyak yang hampir punah. Salah satu faktornya karena usia alat musik disana sudah sangat tua, bahkan sejarah diciptakannya pun ada yang tidak diketahui.


-Aisyahf-

TAKE OUT WITH FULL CREDITS!

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer